Peranan Olahraga Rekreasi Dalam Membentuk Karakter

PERANAN OLAHRAGA REKREASI DALAM MEMBENTUK

KARAKTER  DAN KEPRIBADIAN

Kurdi

FIK Universitas Cenderawasih Jayapura (e-mail: kurdiima@yahoo.com)

Abstrak: Media pembentukan karakter dan kepribadian dapat melalui berbagai aktivitas. Olahraga rekreasi merupakan salah satu media yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk membentuk karakter dan kepribadian bangsa. Partisipasi seseorang dalam olahraga rekreasi akan mendidik seseorang untuk dapat mengisi waktu luangnya dengan kegiatan- kegiatan positif dalam arti, tidak merugikan dirinya sendiri, orang lain, atau lingkungan alam dan sebaliknya mencegah munculnya kegiatan-kegiatan yang negatif. Perkembangan etika, nilai-nilai positif, perilaku positif, kreativitas, dan nilai moral spiritual merupakan nilai-nilai yang terkandung dalam aktivitas olahraga rekreasi. Upaya membentuk karakter dan kepribadian melalui olahraga rekreasi harus dilakukan sejak dini dan memerlukan kondisi-kondisi yang mendukung pembentukan karakter dan kepribadian yang positif, misalnya kepemimpinan dan perilaku pelatih atau pembina olahraga rekreasi yang baik. Pendekatan teori yang dapat digunakan dalam membentuk karakter dan kepribadian melalui olahraga rekreasi adalah (a) Teori psiko-dinamik (psycodinamic theory), (b) Teori sifat (traits theory), dan (c) Teori belajar sosial (social learning theory). Peranan olahraga rekreasi sebagai media pembentukan karakter dan kepribadian adalah terletak pada upaya mendidik seseorang untuk dapat mengisi waktu luang dengan kegiatan yang positif dan internalisasi nilai-nilai positif dalam olahraga rekreasi  yang langsung diterapkan ke dalam perilaku terutama selama kegiatan rekreasi.

Kata Kunci: Peranan Olahraga Rekreasi, Karakter dan Kepribadian.

PENDAHULUAN

Dampak globalisasi dan era reformasi yang terjadi saat ini membawa bangsa Indonesia dilanda krisis multidimensional. Krisis multidimensional ini ditandai dengan semakin berkembangnya fragmentasi kehidupan, menguatnya egoisme pribadi dan kolektif, marak dan meluasnya aneka konflik, rusaknya komunitas moral, banyaknya praktik tanpa acuan teori dan teori tanpa implementasi, dan aneka kesenjangan yang terjadi. Dari berbagai krisis tersebut yang menjadikan bangsa ini prihatin salah satunya adalah krisis moral. Terbukti dengan maraknya kasus korupsi dan sekandal suap yang dilakukan oleh para pejabat pemerintah, para anggota dewan terhormat, dan para aparat penegak hokum. Terjadinya tawuran antar pelajar, warga, atau bahkan mahasiswa dapat ditelusuri sebagai dampak dari merosotnya karakter nilai dan moral dari setiap pelakunya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di lima kota di Tanah Air ini sebanyak 16,35% dari 1.388 responden remaja mengaku telah melakukan hubungan seks diluar nikah atau seks bebas.

Fakta lain menunjukan krisis moral yang tercermin dalam masyarakat antara lain ditandai oleh (1) hilangnya kejujuran, (2) hilangnya rasa tanggung jawab, (3) tidak mampu perpikir jauh kedepan (visioner), (4) rendahnya disiplin, (5) krisis kerjasama, (6) krisis keadilan, dan (7) krisis kepedulian (Ary Ginanjar, 2008: 2-4). Oleh karena itu, guna mengatasi berbagai krisis moral tersebut, tentunya kualitas sumber daya manusia Indonesia harus terus ditingkatkan melalui berbagai jalur pendidikan dan pelatihan. Sasaran  utama pendidikan dan pelatihan tersebut adalah untuk membentuk kaum cendekia yang terampil dan berbudi luhur.

Olahraga berdasarkan UU SKN Pasal 17 menyebutkan olahraga memiliki dimensi pendidikan, rekreasi dan prestasi, yang mengandung nilai personal sosial, fisiologikal dan psikologikal. Aktivitas Jasmani dan Olahraga rekreasi yang berorientasi pada penanaman nilai dapat menumbuhkan karakter-karakter yang diinginkan. Pendidikan karakter merebak ke permukaan sebagai akibat merosotnya keadaan moral. Memang pendidikan jasmani dan olahraga bukanlah “obat mujarab” bagi penyembuhan suatu keadaan kesakitan masyarakat. Akan tetapi fenomena aktivitas jasmani dan olahraga sebagai bagian dari kajian Human Movement memiliki potensi besar pada pendidikan karakter.

Olahraga adalah salah satu sarana untuk menuju hidup yang lebih sehat dan berkualitas. Salah satu jenis olahraga yang tidak termasuk dalam olahraga prestasi namun termasuk tiga pilar keolahragaan yang dikembangkan pemerintah adalah olahraga rekreasi. Jenis olahraga ini dilakukan di waktu luang dengan tujuan rekreasi atau hanya sekedar hobi, untuk memperoleh kesenangan dan rileksasi dari rutinitas keseharian di ruang terbuka maupun tertutup. Kini olahraga rekreasi telah memiliki wadah resmi yang dibentuk oleh pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga, yakni FORMI (Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia).

Keberadaan olahraga rekreasi dalam era globalisasi menjadi penting artinya sebagai suatu alternatif dalam upaya penurunan dan pencegahan tingkat stress, peningkatan kesehatan mental (karakter), serta upaya pemeliharaan dan mempertahankan keseimbangan kualitas hidup. Waktu luang yang dimiliki seseorang sangat berfariasi tergantung dari rutinitasnya sehari-hari. Anak-anak dan remaja memiliki waktu luang yang lebih banyak dibanding dengan orang dewasa. Perilaku-perilaku negatif seseorang muncul karena adanya waktu luang dan kesempatan yang dimilikinya, oleh karena itu upaya pemanfaatan waktu luang dengan kegiatan-kegiatan positif khususnya olahraga rekreasi sangat penting untuk memperkecil timbulnya perilaku-perilaku negatif.

Media pembentukan karakter dan kepribadian dapat melalui berbagai aktivitas. Olahraga rekreasi merupakan salah satu media yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk membentuk karakter dan kepribadian bangsa. Untuk itu penulis ingin mengungkap sejauhmana peranan olahraga rekreasi dalam membentuk karakter dan kepribadian?

Hakikat Karakter dan Kepribadian

Karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, bangsa, dan Negara. Karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, adat istiadat, dan estetika.

Menurut Munir (2010: 3) karakter adalah sebuah pola, baik itu pikiran, sikap, maupun tindakan yang melekat pada diri seseorang dengan kuat dan sulit dihilangkan. Scerenko (1997) mendefinisikan karakter sebagai atribut atau ciri-ciri yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis, dan kompleksitas mental dari seseorang, suatu kelompok atau bangsa. Sedangkan menurut Lumpkin (2008) dalam pendidikan jasmani dan olahraga, karakter antara lain digambarkan dalam bentuk prilaku sportivitas, menghargai orang lain, menghargai fasilitas, pengendalian diri, kemauan, dan tanggung jawab.

Mengacu pada berbagai pengertian dan definisi karakter tersebut diatas, maka karakter dapat dimaknai sebagai nilai-nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan prilakunya dalam kehidupan sehari-hari.

Karakter mengambarkan etika atau suatu sistem personal dari nilai-nilai, yang penting bagi eksistensi personal seseorang dan dalam hubungannya dengan orang lain. Menurut Cole (2004), karakter terdiri atas dimensi intelektual dan dimensi perilaku. Dalam konsep tersebut terdapat nilai inti dan sistem kepercayaan, serta perilaku atau aksi yang menyokong sistem inti. Dimensi intelektual dari karakter menyangkut etika, yaitu suatu sistem nilai (apa yang penting atau kritis) dan moral (apa yang baik atau benar), yang berkaitan dengan tanggung jawab pribadi dan sosial, sedangkan dimensi perilaku adalah suatu cara pandang hidup yang memperlihatkan aksi yang konsisten dan terus menerus dengan kualitas dimensi intelektual.

Terdapat Sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu; (1) karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, (2) kemandirian dan tanggung jawab, (3) kejujuran/amanah, diplomatis, (4) hormat dan santun, (5) dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama, (6) percaya diri dan pekerja keras, (7) kepemimpinan dan keadilan, (8) baik dan rendah hati, dan (9) toleransi, kedamaian dan kesatuan (Suyanto: 2009).

Kepribadian (personality) menurut Gordon W. Allport (1937) “ Personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysical system that determine his unique adjustment to his environment”. Menurut Hollander (1967) “ personality is the sum total of an individual’s characteristics which make him unique”. Selanjutnya Attkinson dkk (1987: 258) mendefinisikan kepribadian sebagai pola pikiran, emosi dan perilaku yang berbeda dan karakteristik yang menentukan gaya personal inidividu dan mempengaruhi interaksinya dengan lingkungan. Mengacu pada beberapa pengertian kepribadian diatas dapat disimpulkan bahwa kepribadian (personality) adalah suatu pola yang mengatur tingkahlaku seseorang yang bersifat cenderung menetap dalam kurun waktu yang relatif lama, bersifat unik, individual dan kompleks.

Kepribadian merupakan akumulasi keseluruhan sifat yang membentuk tingkahlaku seseorang menjadi unik. Menurut Hollander (1967) struktur kepribadian dibentuk oleh tiga hal yang saling berhubungan, yaitu sebagai berikut: (a) inti (psychological core). Mempresentasikan kepribadian sebagai sifat internal yang konsisten. Inti pesikologik meliputi sikap-sikap dasar, nilai-nilai, minat, dan motif; (b) respon yang khas (typical responses). Menggambarkan aspek kepribadian individu dalam menanggapi lingkungan; (c) tingkahlaku yang berhubungan dengan peran (role-related behavior). Menggambarkan aspek kepribadian individu yang paling supervisial guna mengadaptasikan persepsi seseorang dengan lingkungan dimana berada.

Kepribadian individu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu; kepribadian tipe A dan kepribadian tipe B (Frieldman dan Ray rosenman, 1985). Menurut Harlock (1974), individu yang mempunyai kepribadian tipe A memperlihatkan kecenderungan agresif, cepat bosan, bicara dan berjalan dengan cepat, mempunyai persaingan yang tinggi, suka menyela pembicaraan orang lain, dan ambisius. Sedangkan individu yang mempunyai kepribadian tipe B menunjukkan karakteristik bersikap tenang, santai tidak terlalu memaksa diri dalam berkerja, tidak suka bersaing, dan lebih memahami orang lain. Selanjutnya Hanson (1986: 198-2000) memberikan uraian tentang karakteristik kepribadian tipe A dan tipe B, tipe A mempunyai ciri-ciri terburu-buru dalam menentukan sesuatu, asertif, senang dengan persaingan, perfeksionis, ambisi dan polyphasic. Sedangkan tipe B mempunyai ciri-ciri lebih santai dalam melakukan sesuatu, lebih sabar menunggu, kurang asertif, menghindari persaingan, non perfeksionis, kurang ambisi dan non polyphasic.

Dari beberapa pendapat yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa individu dengan tipe kepribadian A cenderung agrasif, tidak sabar, perfeksionis, ambisi yang tinggi dan polyphastic. Sedangkan tipe B cenderung tidak agresif, sabar, non perfeksionis, ambisi yang rendah dan non polyphastic

Kepribadian sebagai sesuatu yang multikompleks dipengaruhi olah banyak faktor, antara lain: (a) keturunan (heriditer). Faktor yang bersifat genetik; (b) fisik (organo-biologic). Faktor ini masih terkait dengan faktor keturunan, meliputi struktur anatomis, fisiologis, fungsi otot dan perkembangannya; (c) psiko-edukatif (psycho-educative). Berkaitan dengan faktor kejiwaan manusia yang dalam perkembangan seseorang disebut proses pendidikan; (d) sosio-kultural (socio-cultural). Faktor yang bersumber dari lingkungan sosial budaya setempat; dan (e) spiritual. Faktor yang berhubungan dengan sistem keyakinan hidup, keyakinan agama dan moral.

Hakikat Olahraga Rekreasi

Menurut Edward (1973) olahraga harus bergerak dari konsep bermain, games, dan sport. Ruang lingkup bermain mempunyai karakteristik antara lain; (a) terpisah dari rutinitas, (b) bebas, (c) tidak produktif, (d) menggunakan peraturan yang tidak baku. Ruang lingkup pada games mempunyai karakteristik; (a) ada kompetisi, (b) hasil ditentukan oleh keterampilan fisik, strategi, kesempatan. Sedangkan ruang lingkup sport; permainan yang dilembagakan. Selanjutnya menurut Santosa (1991: 57) menjelaskan bahwa, “Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana yang dilakukan oleh orang untuk mencapai suatu maksud atau tujuan tertentu”.

UNESCO mendefinisikan olahraga sebagai “setiap aktivitas fisik berupa permainan yang berisikan perjuangan melawan unsur-unsur alam, orang lain, atau diri sendiri”. Menurut Cholik Mutohir (2002) olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/pertandingan, dan kegiatan jasmani yang intensif untuk memperoleh rekreasi, kemenangan, dan prestasi puncak dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila.

Rekreasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan pengisi waktu luang yang melibatkan fisik, mental, emosional dan sosial yang mengandung sifat pemulihan kembali kondisi seseorang dari segala beban yang timbul akibat kegiatan sehari-hari dan dilaksanakan dengan kesadaran sendiri tanpa paksaan. Melalui kegiatan rekreasi akan diperoleh kesenangan dan kepuasan bagi pelakunya. Kegiatan rekreasi dapat dilakukan melalui: (1) Rekreasi melalui kegiatan olahraga. Kegiatan olahraga dimaksud bertujuan mencari kesegaran, kegembiraan, kepuasan, persahabatan dan member kesegaran jasmani, bukan untuk memperoleh kemenangan atau prestasi. Misalnya inline skate, skate board, laying-layang, permainan tradisional, senam aerobic, pencaksilat budaya dan lain sebagainya; (2) Rekreasi di alam terbuka. Kegiatan rekreasi untuk membina hobby petualangan menyatu dengan alam, mencari kepuasan dan memupuk rasa kagum dan syukur terhadap kebesaran ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Misalnya berkemah, penjelajahan hutan, menyusuri pantai, napak tilas, dan lain sebagainya; (3) Rekreasi melalui kegiatan seni dan budaya. Kegiatan rekreasi ini untuk menyalurkan bakat seni dan estetika, sebagai upaya mewariskan dan menanamkan nilai-nilai budaya bangsa. Misalnya menyanyi, melukis, mengunjungi tempat-tempat peningalan sejarah, dan lain sebagainya; (4) Rekreasi melalui kegiatan keterampilan. Kegiatan rekreasi untuk membina hoby dan sikap kemandirian serta membangkitkan kreativitas bagi pelaku rekreasi. Misalnya memasak, merangkai janur, membuat patung, dan lain sebagainya; (5) Rekreasi melalui kegiatan sosial. Kegiatan rekreasi untuk membina rasa tanggung jawab dan kebersamaan dalam masyarakat. Misalnya kerjabakti, kunjungan sosial, dan lain sebagainya; (6) Rekreasi dalam bentuk hiburan. Kegiatan rekreasi ini seperti: menonton pertunjukan teater, filem, konser, pertandingan sepak bola, dan lain sebagainya.

Walaupun berbagai kegiatan dapat menjadi aktivitas rekreasi, namun ada ciri-ciri atau karakteristik tertentu bahwa suatu kegiatan dapat dikatakan sebagai rekreasi, karakteristik rekreasi tersebut adalah: (a) suatu aktivitas yang melibatkan fisik, mental/emosional dan sosial, (b) rekreasi dilakukan karena terdorong oleh keinginan atau motif dimana motif tersebut sekaligus menentukan bentuk dan macam aktivitas yang dikehendaki, (c) rekreasi hanya dilakukan pada waktu luang, (d) rekreasi dilakukan secara sunguh-sunguh, mempunyai maksud dan tujuan tertentu, (e) rekreasi dilakukan dengan bebas dari segala macam paksaan, bebas dengan pengertian dalam batas norma, nilai dan peraturan yang berlaku di masyarakat, (f) rekreasi  bersifat fleksibel, ini berarti bahwa rekreasi tidak dibatasi oleh tempat, macam kegiatan, dan dapat dilakukan dimana saja sesuai dengan kegiatan yang dilakukan baik perorangan maupun kelompok, (g) rekreasi bersifat universal artinya dapat dilakukan semua orang, dan (h) rekreasi mempunyai manfaat yang positif.

Olahraga rekreasi menurut haryono (1978: 10) adalah kegiatan fisik yang dilakukan pada waktu luang atau senggang berdasarkan keingginan atau kehendak yang timbul karena memberi kepuasan atau kesenangan. Menurut Herbert Hagg (1994) Rekreational sport /leisure time sports are formd of physical activity in leisure under a time perspective. It comprises sport after work, on weekends, in vacations, in retirement, or during periods of (unfortunate) unemployment”. Sedangkan menurut Nurlan Kusmaedi (2002:4) olahraga rekreasi adalah kegiatan olahraga yang ditujukan untuk rekreasi atau wisata.

Mengacu dari beberapa pengertian olahraga rekreasi tersebut diatas, maka olahraga rekreasi dapat diartikan sebagai jenis olahraga yang dilakukan pada waktu luang berdasarkan keingginan yang timbul dengan tujuan rekreasi untuk mencari kesegaran, kegembiraan, kepuasaan dan rileksasi dari rutinitas keseharian.

Melalui kegiatan olahraga rekreasi dapat digali berbagai nilai positif bagi pertumbuhan dan perkembangan: (a) Segi fisik, meliputi: mengurangi ketegangan, pengembangan keterampilan dan motorik, kesegaran jasmani, dan rehabilitasi; (b) Segi psikis-emosional, meliputi: antisipasi, refleksi, estetika, ekspresi diri, rasa menghargai, rasa aman, kesenangan dan kenikmatan; (c) Segi sosial, meliputi: hubungan antar pribadi, persahabatan, kepercayaan, kesetiakawanan, tukar menukar budaya, perhatian kepada sesama, dan rasa menghargai; (c) Segi intelektual, meliputi: meningkatkan pengetahuan dan wawasan, pengalaman baru, evaluasi diri, pemecahan masalah, dan pengembangan hobi; dan (d) Segi spiritual, meliputi: kekaguman, perenungan, meditasi, dan rasa sukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Yang termasuk jenis olahraga rekreasi adalah: (a) olahraga rekreasi modern, meliputi inline skate, be boys, BMX, skate board, street soccer, modern dance, panjat dinding, capoiera, dan parkour; (b) olahraga rekreasi tradisional, meliputi pencak silat budaya, barongsai, layang-layang, egrang, terompah panjang, dagongan, gasing, gulat bejang, panco, jujitsu, aikido, hapkido, kendo dan olahraga tradisional nusantara; (c) olahraga rekreasi missal, meliputi senam aerobic, senam lansia, senam jantung sehat, senam sehat Indonesia, satria nusantara, chakra murti, dan tai chi.

Peranan Olahraga Rekreasi Sebagai Media Membentuk Karakter dan Kepribadian

Karakter merupakan sebuah konsep moral tersusun dari sejumlah nilai-nilai karakteristik yang membangun kepribadian seseorang. Media pembentukan karakter dan kepribadian dapat melalui berbagai aktivitas. Olahraga rekreasi merupakan salah satu media yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk membentuk karakter dan kepribadian bangsa. Partisipasi aktif seseorang dalam olahraga rekreasi akan dapat: (a) Mendidik seseorang untuk dapat mengisi waktu luangnya dengan kegiatan positif dalam arti, tidak merugikan dirinya sendiri, orang lain, atau lingkungan/alam dan sebaliknya mencegah munculnya kegiatan negatif, seperti penggunaan narkoba, pergaulan bebas, tawuran dan lain sebagainya; (b) menambah pengetahuan dan memperkaya wawasan serta pengalaman baru yang beraneka ragam sesuai dengan jenis kegiatannya; (c) meningkatkan ketangkasan dan keterampilan; (d) menanamkan sikap hidup yang kreatif dan sosial; (e) membentuk kepribadian yang baik; (f) menanamkan rasa kagum dan syukur terhadap kebesaran ciptaan Tuhan Yang Maha Esa; dan (g) menanamkan rasa cinta tanah air dan bangsa.

Upaya membentuk karakter dan kepribadian melalui olahraga rekreasi harus dilakukan sejak dini dan memerlukan kondisi-kondisi yang mendukung pembentukan karakter dan kepribadian yang positif, misalnya kepemimpinan dan perilaku pelatih atau pembina olahraga rekreasi yang baik. Olahraga rekreasi untuk anak-anak sangat beraneka ragam sesuai dengan minat, kebutuhan, dan kemampuan masing-masing anak. Orang-orang yang memimpin kegiatan olahraga rekreasi untuk anak-anak harus mengenali keberagaman karakteristik yang dimilikinya dan tidak memaksakan setiap anak untuk mengikuti program yang sama. Karena rekreasi bertujuan untuk menyegarkan kembali, membangun, dan membentuk pengalaman yang menyenangkan dan berharga, kepentingan setiap individu adalah penting.

Menurut Lickona (1991) menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik (components of good character), yaitu (a) pengetahuan tentang moral (moral knowing). (b) perasaan tentang moral (moral feeling), dan (c) perbuatan moral (moral action). Hal ini diperlukan agar individu mampu memahami, merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan. Melalui olahraga rekreasi seseorang akan mendapatkan pengetahuan baru (nilai-nilai moral) yang terkandung didalamnya, kemudian menghayatinya dan melaksanakan nilai nilai moral tersebut dalam kegiatan olahraga rekreasi serta mengimplementasikan nilai moral tersebut dalam kehidupan bermasyarakat.

Peranan olahraga rekreasi sebagai media pembentukan karakter dan kepribadian adalah terletak pada upaya mendidik seseorang untuk dapat mengisi waktu luang dengan kegiatan yang positif dan internalisasi nilai-nilai positif dalam olahraga rekreasi  yang langsung diterapkan ke dalam perilaku terutama selama kegiatan rekreasi.

Pendekatan Dalam Membentuk Karakter dan Kepribadian Melalui Olahraga Rekreasi.

Menurut Richa H.Cox (1985), ada tiga pendekatan teori utama yang dapat digunakan dalam membentuk karakter dan kepribadian melalui olahraga rekreasi yaitu:

1)    Teori  Psiko-dinamik (Psychodinamic Theory). Teori ini sering disebut Psychoanalyse atau Freud Theory. Teori ini bertumpu diatas dasar perlunya pengecekan mendalam keseluruh pribadi dan perlunya mengetahui motif-motif yang tidak disadari. Setiap individu memiliki motif-motif berbeda yang mendasari perilakunya guna pemenuhan kenikmatan, kepuasan dan kebutuhannya. Jenis kegiatan Olahraga rekreasi yang dilakukan disesuaikan dengan keinginan yang timbul tanpa ada paksaan sehingga kegembiraan, kepuasan dan kebutuhan yang diinginkan dapat tercapai.

2)    Teori Sifat (Traits Theory). Menurut Allport, sifat menunjuk pada perdisposisi untuk membuat penyesuaian tingkah laku melalui cara-cara yang khas.Untuk itu individu akan menunjukan predisposisi untuk menginternalisasi kesediaan berkompetisi, mempertahankan diri, dan berkembang dalam banyak situasi. Setiap individu memiliki tipe atau sifat yang berbeda dalam menangapi lingkungannya. Jenis kegiatan olahraga yang dilakukan hendaknya bervariasi, sehingga individu diharapkan memiliki pengalaman dan wawasan yang luas dalam merespon berbagai situasi dengan baik.

3)    Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory). Menurut Clark Hull, 1943 (R. H. Cox, 1985), ada dua tema utama dari mekanisme teori belajar sosial adalah individu belajar pemodelan (modelling), dan penguatan sosial (social reinforcement). Menurut pandangan teori belajar sosial, tingkah laku merupakan perpaduan antara motif-motif yang tidak disadari (psikodinamik), fungsi belajar sosial dan pengaruh situasi. Untuk membentuk karakter dan kepribadian melalui olahraga rekreasi di perlukan adanya prilaku positif dari seorang pemimpin atau pembina olahraga rekreasi yang dapat dijadikan model serta menciptakan situasi lingkungan olahraga rekreasi yang kondusif guna; (a) membangun landasan kepribadian yang kuat, sikap cinta damai, sikap sosial dan toleransi dalam konteks kemajemukan budaya, etnis, dan agama, (b) meletakkan landasan karakter yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai positif dalam olahraga rekreasi, (c) penanaman kedisiplinan, dan (d) menumbuhkan kecerdasan emosi dan penghargaan terhadap hak-hak asasi orang lain melalui pengalaman fair play dan sportivitas dalam olahraga rekreasi.

KESIMPULAN

Karakter dapat dimaknai sebagai nilai-nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan prilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat Sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu; (1) karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, (2) kemandirian dan tanggung jawab, (3) kejujuran/amanah, diplomatis, (4) hormat dan santun, (5) dermawan, suka tolong- menolong dan gotong royong/kerjasama, (6) percaya diri dan pekerja keras, (7) kepemimpinan dan keadilan, (8) baik dan rendah hati, dan (9) toleransi, kedamaian dan kesatuan

Kepribadian (personality) adalah suatu pola yang mengatur tingkahlaku individu yang bersifat cenderung menetap dalam kurun waktu yang relatif lama, bersifat unik, individual dan kompleks. Struktur kepribadian dibentuk oleh 3 hal yang saling berhubungan, yaitu sebagai berikut: (a) inti (psychological core), (b) respon yang khas (typical responses), dan (c) tingkahlaku yang berhubungan dengan peran (role-related behavior). Kepribadian individu dapat dikelompokan dalam kepribadian tipe A dan kepribadian Tipe B.

Olahraga rekreasi merupakan salah satu media yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk membentuk karakter dan kepribadian bangsa. olahraga rekreasi dapat diartikan sebagai jenis olahraga yang dilakukan pada waktu luang berdasarkan keingginan yang timbul dengan tujuan rekreasi untuk mencari kesegaran, kegembiraan, kepuasaan dan rileksasi dari rutinitas keseharian. Partisipasi seseorang dalam olahraga rekreasi akan dapat: (a) Mendidik seseorang untuk dapat mengisi waktu luangnya dengan kegiatan positif dalam arti, tidak merugikan dirinya sendiri, orang lain, atau lingkungan/alam dan sebaliknya mencegah munculnya kegiatan negatif, seperti penggunaan narkoba, pergaulan bebas, tawuran dan lain sebagainya; (b) menambah pengetahuan dan memperkaya wawasan serta pengalaman baru yang beraneka ragam sesuai dengan jenis kegiatannya; (c) meningkatkan ketangkasan dan keterampilan; (d) menanamkan sikap hidup yang kreatif dan sosial; (e) membentuk kepribadian yang baik; (f) menanamkan rasa kagum dan syukur terhadap kebesaran ciptaan Tuhan Yang Maha Esa; dan (g) menanamkan rasa cinta tanah air dan bangsa.

Peranan olahraga rekreasi sebagai media pembentukan karakter dan kepribadian adalah terletak pada upaya mendidik seseorang untuk dapat mengisi waktu luang dengan kegiatan yang positif dan internalisasi nilai-nilai positif dalam olahraga rekreasi  yang langsung diterapkan ke dalam perilaku terutama selama kegiatan rekreasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Munir. (2010). Pendidikan karakter: membangun karakter anak sejak dari rumah. Yogyakarta: PT Pustaka Insan Madani.

Cox, H. Richard. (1985). Sport psychology, Concepts and applications. Lowa: W. Mc. Broun Publishers Dubuque.

Cole, Christy. (2004). Character development as an outcome. Ohio Northern University.

Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Kesegaran Jasmani dan Rekreasi.(1997). Pedoman penyelengaraan rekreasi pendidikan. Jakarta. Pusat Kesegaran Jasmani dan Rekreasi.

Gold, S. H. (1990) Recreation plaining and design. New York: Mc. Grow Hill.

Hollander, E. P. (1967). Principle and methods of social psychology. New York: Holt, Rinethart & Winston.

Lickona, Thomas. (1991). Educating for character. New York: Bantam Book.

Lumpkin, A. “Teacher as role models teaching character and moral virtues”. Journal of physical education recreation and dance, 79 (2), 2008, hal. 45-58.

Muchlas Samani. (2011). Pendidikan karakter: konsep dan model. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Rusli Lutan. (2001). Olahraga dan etika fair flay. Jakarta: Direktorat Pemberdayaan ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga, Direktorat Olahraga Depdiknas.

Scerencoko, Linda C. (1997). Values and character education implementation guide.Georgia Departmen of education.

Suyanto. (2009). Urgensi pendidikan karakter. http://www.mandik dasmen.depdiknas.go.id/web/pages/urgensi.html. Diunduh pada 14 Desember 2011

Toho Cholik Mutohir. (2002). Gagasan-gagasan tentang Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Surabaya: Unesa University Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s